Telogo Ngebel, Kabupaten Ponorogo

Menurut
cerita yang berkembang dalam masyarakat, telaga Ngebel mempunyai
keunikan tersendiri yang didasarkan pada kisah seekor ular naga bemama
“Baru Klinting”. Saat itu, sang ular sedang bermeditasi, secara tak sengaja dipotong-potong oleh masyarakat sekitar untuk dikonsumsi.
Tiba- tiba secara ajaib, sang ular tersebut menjelma menjadi anak
kecil lalu mendatangi masyarakat dan membuat sayembara. Isi atau maksud
sayembara itu adalah barang siapa bisa mencabut lidi yang ditancapkan di
tanah.
Anehnya, setelah sayembara itu berlangsung lama, namun tak
seorangpun yang berhasil mencabutnya. Lantas anak kecil itu sendirilah
yang berhasil mencabutnya. Dan dari lubang bekas lidi itu keluarlah air
yang kemudian menjadi mata air yang menggenang hingga membentuk telaga.
Legenda Telaga Ngebel ini sangat erat dan memiliki peran penting
dalam sejarah Kabupaten Ponorogo. Konon, salah seorang Pendiri Kabupaten
Ponorogo bemama Batoro Kantong, sebelum menjalankan syiar Islam di
daerahnya. Batoro menyucikan dirinya terlebih dahulu di mata air dekat
telaga, yang kini dikenal sebagai Kucur Batoro.
Panorama Ngebel Sangat Menakjubkan

Obyek
wisata Telaga Ngebel berada di sekitar 26 km kearah utara-timur dari
pusat Kota Ponorogo, tepatnya berada dikaki Pegunungan Wilis dengan
ketinggian 750 meter diatas permukaan laut. Suhu ditempat wisata ini
sekitar 20-26 derajad celcius, sehingga terasa sejuk. Dengan luas
permukaan sekitar 15 km dikelilingi oleh jalan sepanjang 5 km. Telaga
ini memiliki panorama alam yang menakjubkan, indah dan asri.
Sebenamya, Telaga Ngebel bisa menarik para investor untuk
mengembangkan wilayah ini, sehingga ngebel dapat dipercantik dan bisa
dijadikan ikon kedua di Ponorogo setelah kesenian Reog. Sebab, obyek
wisata ini layak untuk dikunjungi dan dijual karena suasananya masih
alarni, indah danasri.
Disamping panorama alamnya yang sangat aduhai, udaranyapun sangat
sejuk apalagi bila diiringi angin semilir yang menyelimuti obyek wisata
Telaga. Sehingga serasa pas dengan panorama yang asri nan indah
mempesona ini otomatis bisa mematri hati para pengunjungnya. Ditambah
lagi dengan pemandangan para pencari ikan yang sedang asyik menangkapi
penghuni. telaga. Lalu, diseberang sana ada warung atau kedei dengan
menjual atau sajian ikan bakar dari telaga kian menambah betah siapapun
yang hadir di tempat ini
Telaga Ngebel memang memiliki daya tarik dan keunikan tersendiri
dibandingkan dengan telaga-telaga lain yang ada di Jawa Timur. Telaganya
yang.indah dan anggun ini, dikelilingi rimbwmya pepohonan lereng gunung
wilis. Dengan kondisi alarnnya yang eksotik inilah sehingga memi!iki
prospek cukup baik bila dikembangkan, bahkan dapat dijadikan aset
Pemerintah Kabupaten Ponorogo dalam meningkatkan perekonornian,
khususnya bagi masyarakat sekitar obyek wisata itu sendiri.
Sebagai petunjuk jalan bagi para pengunjung, terutama pengunjung yang
datang dari luar Ponorogo dapat menempuh melalui jalan raya
Madiun-Ponorogo. Hanya saja, akses jalan ini cukup sempit, terjal dan
berkelok-kelok. Tetapi, saat sudah mendekati telaga, di sepanjang
jalannya dihiasi tanaman seperti hutan-hutan kecil yang cukup rimbun.
Hal ini menunjukkan, bahwa Pemkab Ponorogo sangat serius dalam mengelola
tempat wisata ini, terlihat dari banyaknya penunjuk jalan atau arah
disepanjang jalan.
Keadaan jalannyapun rata- rata sangat bagus dan semua telah diaspal.
Rata- rata pengaspalan jalannya dengan hotmix meskipun belum seluruhnya
selesai. Begitu sampai di telaga, pertama mata memandang yang terlihat
adalah pemandangan yang cukup indah dan didukung dengan udaranya yang
sejuk, sehingga membuat hati dan pikiran terasa bebas dari segala
masalah
.

Di
kawasan wisata Telaga Ngebel, pengunjung tidak akan kesulitan untuk
mencari makan atau buah- buahan. Karena di tempat ini semua kebutuhan
pengunjung sudah tersedia, dan tempatnyapun berada di sepanjang areal
telaga ngebel. Buah yang ada antara lain durian, manggis, dan pundung,
alpokat, pisang serta nangka yang merupakan buah local dari sekitar
ngebel. Setiap tahun, di Telaga ini diadakan ritual budaya yang berupa
LarW1gan Sesaji yang penyelenggaraannya bertepatan dengan tahun baru
Hijriyah/Tahun baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro. Di moment inilah
biasanya sangat ramai pengunjung yang datang ke telaga ngebel.
Bila masyarakat atau pengunjung ingin mengunjung Telaga Ngebel, tidak
usah takut atau khawatir karena akses menuju kesana tidak sulit. Di
ponorogo, sudah banyak Angkutan umum dan angkutan selalu tersedia dan
siap mengantarkan pengunjung dari Terminal Ponorogo menuju Terminal
Jenangan dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Untuk bisa sampai ke
tempat wisata telaga, pengunjung juga bisa lewat atau ditempuh dari
Madiun melalui Mlilir dan Dolopo.
Seperti daerah pegunungan lain, disepanjang jalan menuju ke telaga
ngebel perjalanan kami selalu menyenangkan dan sangat menarik. Karena
sejauh mata kami memandang, baik disebelah kanan maupun kiri jalan yang
terlihat adalah hamparan sawah hijau bak permadani yang sangat
menyejukkan mata, dan dipinggiran wasah itu berjajar pepohonan yang
sangat rindang menambah eksotis pemandangan di kala siang hari. Begitu
sampai di lokasi telaga ngebel, pertama- tama tanda yang bisa kita
ketahui bahwa kami sudah sampai di ngebel adalah dari kejauhan sudah
kelihatan pantulan air telaga yang berkilauan.
Telaga ngebel yang memiliki luas permukaan sekitar 1,5 km dan
dikelilingi jalan sepanjang 5 km ini, menjadi sumber rejeki bagi
masyarakat setempat mencari ikan. Sebab, di tempat ini banyak di huni
aneka macam ikan khususnya ikan tawar. Disamping itu, telaga ini juga
bisa membantu para petani ikan untuk mengembangkan perikanan ikan tawar
dengan cara memasang keramba secara berderet-deret di dalam telaga.
Setiap pagi dan sore, para pemilik keramba- keramba itu sibuk memberi
makan ikan. Sampai saat ini, jumlah keramba yang terhampar di telaga ada
sekitar 900 yang dikelola oleh 12 kelompok. Sedang Ikan yang ditanam
atau dikembangkan adalah nila, wader, dan mujair.
Sementara bagi yang tidak memiliki keramba, telaga ini juga bisa
dijadikan tempat untuk memancing yang menyenangkan. Aktivitas memancing
di telaga ini banyak dilakukan masyarakat di waktu sore hari. Biasanya
mereka duduk berderet eli tepi telaga, sambil menunggu kail-kail yang
mereka pasang dimakan ikan.
Begitu juga saat mengitari telaga melalui lewat jalan darat yang ada
di sekeliling telaga cukup menyenangkan. Tetapi, sekali- sekali cobalah
berkeliling telaga dengan menggunakan bus air. Sebab, disana telah
diseeliakan dua armada bus air dengan kapasitas 20 penumpang yang siap
mengantar mengelilingi telaga dengan melihat keramba dari dekat. Tarif
naik bus airpun relatif murah. Yaitu hanya dengan mengeluarkan uang
recehan sebesar Rp 5.000 per orang, pengunjung bisa berkeliling
menyusuri keluasan danau selama 30 menit. Pengunjungpun tidak usah
kuatir tidak kebagian tempat, karena selain dua armada bus air, saat ini
pemkap dalam hal ini Dinas Pariwisata Ponorogo juga sudah menyiapkan
perahu sebanyak 13 buah. Perahu-perahu ini untuk antisipasi pengtmjung
di akhir pekan tiba atau hari-hari libur lainnya.
Begitu juga bagi pengunjung yang tak ingin segera beranjak dari
telaga dan ingin menikmati malam di tepi telaga, pengunjung bisa
menghabiskan malam di penginapan. Sebab, di areal wisata ini juga sudah
disipkan banyak penginapan ataupun hotel, tetapi kondisi hotel atupun
penginapan di ngebel belum sebanyak dan se bagus di daerah wisata
lainnya. Atau seperti di Telaga Sarangan, tetapi kondisinya cukup
menyenangkan jika membawa keluarga dan menginap. Salah satu penginapan
yang dekat dengan telaga adalah Pesanggrahan Songgolangit. Pengffiapan
milik Pemkab Ponorogo ini memiliki sepuluh kamar. Setiap kamarnya
disewakan dengan harga Rp 50.000 – Rp 75.000 per inalam.
Dengan hanya merogoh kocek Rp 2000,untuk tiket masuk, tidak
mengherankan kalau banyak pengunjung yang datang ke Telaga Ngebel walau
hanya sekedar duduk-duduk sambil menikrnati pemandangan. Menurut petugas
peron masuk, setiap akhir pekan jumlah pengunjung mencapai 7.500 –
10.000 per bulan.
Selain itu, di hari-hari libm nasionalpun, Telaga Ngebel selalu
diadakan panggung terbuka sehingga menambah antusias para pengunjung.
Harapannya, dengan adanya panggung terbuka, maka jurnlah pengunjung
meningkat “Bahkan jika ada event besar jurnlah pengunjung bisa sampai
20.000 orang. Seperti event Upacara Larung yang diadakan bertepatan
dengan Grebeg Suro pada awal November Jurnlah pengunjung bisa mencapai
50.000 orang bahkan lebih. Dan yang datangpun, tidak hanya dari Ponorogo
tetapi juga dari kabupaten lain yang terdekat,” ungkap Priyo Nugtoho,
Kasie Obyek Dan Daya Tarik Wisata, Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda
dan Olah Raga, Kabupaten Ponorogo.
Sebagai pelengkap, karena tidak lengkap rasanya jika berwisata tanpa
mencicipi hidangan khas, pengunjng bisa mencicipi makanan khas ponorogo,
sepanjang jalan menuju telaga. Di sepanjang jalan ini terdapat
warung-warung sederhana sampai restoran.
Menurut data Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga,
jumlah warung sebanyak 40 buah dan restoran ada 15 buah. Pemilik warung
dan restoran adalah penduduk asli yang tinggal di sekitar Telaga Ngebel.
Sebagai pasokan menu utamanya yang mayoritas Nila, mereka
membudidayakan ikan nila di keramba. Sehingga harga sepiring nasi dan
ikan nila bakar yang dilengkapi lalap dan sambel tidak mencapai Rp
20.000,-.
Priyo menambahkan, dulu menu utama adalah ikan Ngok ngok yang hanya
hidup di Telaga Ngebel sebagai pendamping tiwul. Nasi tiwul ? hmm .. ….
ternyata makan nasi tiwul asik juga. Rasanya mak kletuss di mulut,
karena sedikit agak keras, beda dengan nasi putih yang pulen. Membuat
penasaran bagi pengunjung yang tidak pernah merasakan nasi ini. Sebab,
menu ini sangat aneh banget dengan sebutan menu ikan Ngok ngok …
berhubung ikan tersebut langka, maka sedang di budidayakan dan sekarang
belum saatnya panen. Maka Tim Prasetya pun cukup puas dengan sajian ikan
nila bakar plus sambel dan lalapan. Ternyata sambalnya pedesss banget,
terpaksa minta tambah nasi tiwul, eh, .. . nasinya habis, . .. minta
tambah ikan … eh ikan masih ada. Benar-benar lezat.yaitu hidangan nila
yang disuguhkan dengan nasi tiwul. Menurut Kepala Dinas kebudayaan,
Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Ponorogo, Drs. Abas Kontoro mengatakan,
setelah diadakan pengembanganatau pembangunan tempat wisata telaga
ngebel, ternyata dampaknya sangat bagus. Sejak tahun 2010 kemarin,
pendapatan wisata alam ngebel ini terus meningkatkan. Yaitu dari target,
sebesar Rp 150 juta, saat ini sudah mencapai Rp 130 juta.
Untuk mudah mengetahui dan dikenal orang, bagaimana, dimana dan
seperti apa keadaan telaga ngebel itu, maka Dinas Pariwisata Ponorogo
terus gencar mengadakan sosialisasi tentang keberadaan telaga ngebel.
Tak hanya itu, pembuatan brosur, booklet serta pembuatan website dengan
dengan situs www. Ponorogotourism.co.id sebagai upaya untuk mempromosi
objek wisata di Ponorogo. “Bahkan tak lama lagi kami juga akan menggelar
grebeg Suro dan Larung Risalah Doa sebagai kegiatan rutin,” imbuhnya
Untuk melengkapi keberadaan telaga ngebel agar tambah asri dan baik,
maka dilengkapi dengan beberapa objek wisata pendukung lainnya
diantaranya Sumber Air Panas, Sumber Air Tiga Rasa serta air terjun
Toyomarto. Namun, hal ini belum tersentuh secara optimal.
Abas Kuncoro mengatakan, selama ini hambatan utama yang dihadapi
adaJah kurangnya dukungan infrastrnktur, utamanya akses jalan menuju
area wisata. Selain itu, dari segi kepemilikanTelaga ini berada di atas
tanah milik Perhutani, sedang pengaturan pengairana di bawah Dinas PU
Pengairan Provinsi Jawa Timur dan masyarakat. Untuk menyatukan hal
tersebut telah dilakukan koordinasi lintas sektor guna mencari titik
temu kesepakatan.
Sedang harapan kedepannya, adalah ingin agar infrastruktur jalan
karena hal tersebut merupakan sarana yang paling mendesak mempermudah
calon pengunjung yang ingin datang kesana. Karena selama ini, kondisi
jalan selain sempit dan berkelok-kelok juga sering terjadi longsor. Jika
akses jalan baik, otomatis dapat meningkatkan kunjungan wisata
sekaligus bisa mengundang investor dan mau masuk untuk menanarnkan
modalnya guna menyemarakkan sarana dan prasarana. ” Tetapi harus ada
catatan, bila investor masuk maka mereka harus mempunyai komitmen akan
mengikutsertakan dan mau memberdayakan masyarakat setempat. Karena
kedudukan wisata Telaga Ngebel berada di lingkungan penduduk asli,”
tuturnya•