Hikmah Malam Lailatul Qadar
Oleh K.H. Abdullah Gymnastiar
“Sesunguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam
kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu. Malam kemuliaan
itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat
dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (QS al-Qadr [97]:
1-5).
Saudaraku, begitu besar kasih sayang yang diberikan Allah kepada
hamba-Nya. Lihattlah kita, manusia, sebagai hamba-Nya dengan tabiat yang
sering jatuh bangun dalam lumpur dosa. Namun Allah senantiasa mengasihi
dengan memberi kita kemudahan-kemudahan untuk mensucikan diri dari
karat-karat dosa dan kemaksiatan. Tak bisa dibayangkan, sebesar apa noda
hitam kemaksiatan itu tergores dalam hati, apabila Allah tidak
melimpahkan ampunan-Nya yang Maha Luas.
Ramadhan, merupakan salah satu sarana yang Allah berikan kepada kita
memperoleh ampunan-Nya. Banyak sekali kelebihan-kelebihan yang Allah
berikan kepada hamba-Nya melalui Ramadhan ini, sehingga wajar kalau
Rasulullah mengekspresikan keutamaannya dengan perkataan “Apabila umat
ini tahu apa yang ada dalam Ramadhan, niscaya mereka akan mengharapkan
hal itu selam satu tahun penuh.” (HR Tabrani).
Bahkan salah satu malam yang diselimuti keberkahan hanya terdapat
pada salah satu malam di bulan Ramadhan. Betapa agungnya Ramadhan
sehingga tak ada selainnya yang mendapatkan malam mulia yang lebih baik
dari seribu bulan. Rasulullah saw, bersabda, “Barangsiapa yang beribadah
pada malam Lailatul Qadr, niscaya diampuni dosa-dosanya yang sudah
lewat. (HR Bukhari dan Muslim)
Banyak penjelasan Rasulullah saw yang sampai pada kita tentang
keutamaan-keutamaan malam yang penuh berkah ini. Sebagai malam yang
terbaik dan paling barakah diantara malam yang ada, didalamnya Allah
telah menjanjikan pada hambanya yang ikhlas dan berharap untuk
mendapatkan perlindungan-Nya di hari akhir, akan melipatgandakan sampai
1000 bulan untuk amal-amalan kebaikan yang dilakukan pada malam ini.
Banyak sekali hadist yang menerangkan bahwa kaum muslim hendaklah
mencari lailatul qadar diantara tanggal ganjil pada sepuluh hari
terakhir bulan Ramadhan (HR Bukhari) atau tujuh malam terakhir bulan itu
(HR Bukhari). Tampaknya bagi kita tidak menjadi persoalan kapan
lailatul qadar itu didatangkan, tetapi yang penting adalah menjemput
kedatangannya pada setiap waktu dan mempersiapkan diri untuk itu.
Mungkin lebih baik jika kita pusatkan perhatian pada kesiapan mental,
kejernihan hati, ketulusan jiwa, keadilan pikiran, kepenuhan iman kita,
serta totalitas iman dan kepasrahan jiwa kita kepada Allah Azza Wa
Jalla.
Karena itulah, Ramadhan dengan lailatul Qadar-Nya sebagai media yang
bisa mengantarkan kita pada kesucian. Adalah sangat disunahkan bagi kita
untuk berusaha memperolehnya dengan memperbanyak ibadah dan
amalan-amalan yang baik. Rasulullah, suatu ketika mengatakan “Barang
siapa beramal pada malam lailatul qadar dengan penuh keimanan dan
mengharap pahala dari Allah, maka terampunilah dosa-dosanya yang telah
lalu”. Tidak berlebihan memang, kalau Allah menamainya yang kebaikannya
melebihi seribu bulan.
Tentu alangkah sombongnya manusia yang sangat membutuhkan pengampunan
dari Allah atas perbuatan-perbuatan mereka yang banyak menyimpang,
apabila mereka menyia-nyiakan kesempatan emas yang bersifat tak tentu
akan mereka dapatkan di masa-masa yang akan datang. Siapa yang bisa
menjamin bahwa usia kita akan sampai Ramadhan tahun-tahun yang akan
datang. Oleh karena itu merupakan keharusan yang tidak bisa tidak bagi
kita, untuk mengejarnya, sehingga janji-janji Allah yang telah
ditaburkan itu benar-benar bisa kita dapatkan.
Berangkat dari sini, kita bisa menyikapinya dengan senatiasa
mengoptimalkan ibadah kita di 10 malam terakhir dalam bulan yang penuh
rahmat ini. Dengan begitu kita tidak khawatir akan terlepas dari malam
lailatul qadar. Karena kita mencarinya hanya pada malam-malam tertentu.
Kemudian setelah paparan diatas, kita sebagai hamba Allah yang
benar-benar memahami kebenaran kekuasaannya sadar bahwa usaha kita dalam
mencari lailatul qadar ini adalah untuk membuktikan dan merealisasikan
penghambaan kita kepada Allah Swt, sehingga hal itu mengingatkan kita,
seharusnya kita bersama-sama mendekatkan diri kapanpun dan dimanapun,
tanpa dibatasi ruang dan waktu. Semoga Allah Yang Maha Agung, memberi
kesempatan kepada kita untuk mengecap, menikmati, dan melampaui malam
lailatul qadar pada bulan Ramadhan ini dengan kesungguhan beribadah dan
keikhlasan hati.
Saudaraku yang budiman, para ulama menerangkan bahwa hikmah
disembunyikannya malam qadar, tidak ditegaskan malamnya, ialah supaya
kita berusaha mencarinya, meningkatkan ibadah di setiap malam,
membanyakkan doa semoga memperolehnya, sebagaimana yang dilakukan ulam
salaf.
Saudaraku yang baik, Rasulullah SAW sengaja memperlihatkan
keistimewaan yang ada pada malam kemuliaan (lailatul qadr) yang penuh
berkah itu. Karena beliau tahu bahwa dahulu pernah ada seorang lelaki
bani Israil yang selama 1000 bulan selalu memakai pedang berjuang
dijalan Allah. Karena umur ummatnya tidak ada yang sepanjang itu, maka
Allah menurunkan surat Al-Quran yang menerangkan mengenai malam
kemuliaan itu: “Sesungguhnya kami menurunkannya (al-Quran) pada malam
kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemulian
itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat
dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
Malam itu penuh dengan kesejahteraan sampai terbit fajr” (Al Qadr 1-5).
Al Qadr berarti kemuliaan atau tempat kedudukan yang tinggi, atau
dikatakan juga takdir (ketentuan) dan keduanya dianggap benar. Ia
merupakan tempat menentukan segala urusan dalam setiap tahun, seperti
firman Allah: “Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran pada suatu malam
yang diberkati, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada
malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah” (Ad Dukhan 3-4).
Seribu bulan lebih lamanya daripada 83 tahun (sepanjang umur
manusia). Dan melakukan ibadah pada malam itu pahalanya setara dengan
melakukan ibadah sepanjang masa. Tentu saja itu merupakan kemurahan.
Oleh karena itulah Rasulullah menjadi orang yang paling antusias untuk
melakukannya. Demi hal itu beliau melakukan i’tikaf di masjid, seraya
melepaskan diri dari segala kesibukan dunia. Beliau bersabda: “Barang
siapa melakukan ibadah pada malam kemuliaan karena iman dan mencari
pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”.
Suatu hal yang perlu diperhatikan mengenai keistimewaan malam
kemuliaan ini ialah, bahwa Allah memuliakan segenap manusia dengan cara
menurunkan cahaya petunjuk pada malam itu. Karenanya, gelap kesesatan
hilang sirna. Pada malam itu Allah menghidupkan hati manusia kalau
mereka mau melakukan amal-amal yang saleh. Pada malam itu turun para
malaikat dan termasuk juga Jibril.
Satu lagi keistimewaan malam kemuliaan tersebut ialah, kalau
peristiwa turunnya malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW membawa wahyu
sudah berlalu, maka pada malam kemuliaan itu seakan-akan merupakan
rekonstruksinya ataupun demi pembaharuan kesejahteraan bagi manusia.
Apabila Jibril waktu itu turun dengan membawa wahyu dan syariat Islam,
maka pada malam kemuliaan itu beliau turun lagi setelah mendapat izin
dari Rabbnya untuk mengatur segala urusan yang berlaku setahun bagi
penghuni bumi. Para malaikat pun ikut turun dengan membawa segenap
kesejahteraan. Pada malam itu seolah-olah seluruh dunia tengah terjaga
menyambut tanda-tanda kesejahteraan, kedamaian, kebajikan dan
keselamatan.
Ini mendorong kita untuk menyuarakan kepada segenap dunia bahwa
sesungguhnya agama kita dan misi atau risalah nabi kita, adalah agama
dan misi kesejahteraan yang selalu diperbaharui setiap tahunnya.
Malam kemuliaan merupakan karunia yang tiada duanya. Siapapun yang
sampai terlambat memanfaatkannya, maka sama halnya ia telah berlaku
aniaya terhadap dirinya sendiri. Karena istrinya Aisyah ra, Rasulullah
SAW pernah memberikan wasiat:
“Apabila kamu mendapati malam itu (lailatul qadr), maka bacalah do’a
ini: Allahumma innaka ‘afqun tuhibbul ‘afwa fa’annii. (Ya Allah,
sesungguhnya Engkau maha pengampun, Engkau suka mengampuni, maka
ampunilah aku)” (HR Tarmidzi).
Do’a tersebut mencakup segala kebajikan. Masalahnya kalau orang sudah
diberikan ampunan, maka jiwa dan raganya akan terpelihara. Ia pun akan
dipelihara dari hisab (perhitungan amal) dan siksa, sehingga ia akan
memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
Rasulullah SAW sudah menjelaskan kepada para sahabatnya mengenai
tanggal dari pada malam lailatul qadr tersebut, yakni disekitar bilangan
sepuluh hari yang terakhir pada bulan Ramadhan. Agaknya masalah
tersebut tidak perlu diperdebatkan, karena seluruh malam yang ganjil
dari sepuluh malam terakhir, terdapat hadist yang memaparkan bahwa malam
itu adalah lailatul qadr. Menurut pandangan kami (Athiyah Muhammad
Salim), yang tepat ialah bahwa lailatul qadr itu tidak menentu dan
berpindah-pindah.
“Ya Allah, tolonglah kami untuk bisa melakukan ibadah pada malam
kemuliaan. Berikan kepada kami berkat kebajikannya. Ampunilah kami.
Terimalah permohonan kami agar Engkau berkenan membebaskan kami semua
dari siksa neraka. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang maha mendengar
dan yang maha mengabulkan do’a. Semoga shalawat dan salam sejahtera
Allah senantiasa terlimpah bagi hamba dan Rasul-Nya yang mulia Muhammad
SAW”.
Rasulullah SAW bersabda: “Perangilah nafsu kamu dengan menahan lapar
dan dahaga, karena pahalanya seperti pahala orang yang berjihad di jalan
Allah dan tidak ada amalan yang disukai di sisi Allah daripada menahan
lapar dan dahaga”. Wallahu a’lam.(*)